Artikel ini merujuk pada publikasi terbaru dari penelitian Akasha R. et al. (2026). Seperti kita ketahui, pasien dengan penyakit ginjal tahap akhir membutuhkan terapi pengganti fungsi ginjal, seperti hemodialisis (cuci darah dengan mesin) atau dialisis peritoneal. Peritoneal dialisis adalah salah satu metode cuci darah untuk pasien gagal ginjal stadium akhir yang memanfaatkan selaput rongga perut (peritoneum) sebagai penyaring alami. Fakta dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kedua metode ini memiliki risiko infeksi yang berbeda dan dapat memengaruhi kondisi pasien.
Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit King Khalid, wilayah Hail, Arab Saudi, ini mengevaluasi kejadian infeksi pada 267 pasien dialisis selama periode 2023–2025. Sebanyak 216 pasien menjalani hemodialisis dan 51 pasien menjalani dialisis peritoneal. Rata-rata umur pasien di atas 50 tahun dan umumnya mempunyai penyakit hipertensi dan diabetes melitus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa infeksi lebih sering ditemukan pada pasien hemodialisis dibandingkan dengan dialisis peritoneal, yaitu masing-masing 18,1% dan 9,8%. Pada pasien hemodialisis, infeksi aliran darah adalah masalah utama. Sebagian besar infeksi aliran darah tersebut berkaitan dengan penggunaan kateter pembuluh darah atau selang infus. Sementara itu, pasien dialisis peritoneal lebih berisiko mengalami peritonitis, yaitu infeksi pada selaput rongga perut.
Pasien hemodialisis juga lebih sering menjalani rawat inap akibat infeksi, yaitu 12% dibandingkan dengan 5,9% pada pasien dialisis peritoneal. Diabetes, penggunaan kateter vena sentral, peningkatan penanda peradangan, serta adanya beberapa penyakit penyerta berkaitan dengan risiko infeksi yang lebih tinggi. Kejadian infeksi paling banyak adalah infeksi sistemik pembuluh darah, dengan kuman terbanyak Staphylococcus aureus.
Meskipun demikian, angka infeksi menunjukkan sedikit penurunan selama periode penelitian pada kedua kelompok pasien. Temuan tersebut menegaskan pentingnya pencegahan infeksi yang disesuaikan dengan jenis dialisis. Pada hemodialisis, penggunaan kateter perlu diminimalkan jika memungkinkan, dengan mengutamakan akses vaskular yang lebih aman. Pada dialisis peritoneal, kebersihan kateter, teknik aseptik, edukasi pasien, dan deteksi dini gejala infeksi perlu diperkuat.
Pencegahan infeksi yang konsisten, pemantauan berkala, dan kerja sama tim multidisiplin merupakan langkah penting untuk mengurangi komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup pasien dialisis.
Sumber:
Akasha R, dkk. Frontiers in Medicine. 2026;13:1823284. DOI: 10.3389/fmed.2026.1823284.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar