Nina Mariana

Blog Seputar Kesehatan, Obat & Terapi

 




Selama ini, keberhasilan pengobatan Tuberkulosis resistan obat (TB RO) sering hanya dinilai dari kepatuhan pasien dan kelengkapan regimen. Namun, sebuah pertanyaan penting kerap terlewat: apakah obat benar-benar bekerja di dalam tubuh pasien?.



Dua obat utama untuk kasus TB RO yaitu bedaquiline dan levofloxacin. Namun, keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada regimen obat, tetapi juga pada kadar obat dalam darah setelah pasien minum obat. Tingkat keberhasilan pengobatan TB RO masih belum optimal. Salah satu tantangan utamanya adalah memastikan obat bekerja efektif di dalam tubuh pasien. obat harus mencapai kadar tertentu di dalam darah agar bisa membunuh kuman TB secara efektif.



Sebuah penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa pasien TB RO yang berhasil mengalami konversi sputum (dahaknya tidak lagi mengandung kuman TB dalam empat bulan pertama pengobatan) memiliki rasio kadar puncak obat bedaquiline terhadap daya hambat kuman (atau parameter Cmax/MIC) yang jauh lebih tinggi dibandingkan pasien yang belum berhasil konversi. Artinya, jumlah bedaquiline yang beredar dalam tubuh mereka cukup kuat untuk melawan bakteri TB.



Menariknya, hal yang sama tidak ditemukan pada levofloxacin. Meskipun kadar obat ini relatif memadai pada hampir semua pasien, perbedaannya tidak berpengaruh nyata terhadap konversi sputum. Temuan ini menegaskan bahwa bedaquiline memegang peran kunci pada fase awal pengobatan TB RO. 



Penelitian ini juga mengingatkan bahwa banyak faktor dapat memengaruhi kadar obat, khususnya cara minum bedaquiline (dengan atau tanpa makanan), selain itu, faktor status gizi, kadar albumin, hingga riwayat pengobatan TB sebelumnya. Jika kadar obat terlalu rendah, kuman bisa bertahan dan risiko kegagalan terapi meningkat.



Peneliti berharap, pemantauan kadar obat dalam darah berpotensi menjadi pendekatan baru di Indonesia, untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB RO secara lebih personal dan tepat sasaran. Meski belum bisa diterapkan luas, hasil penelitian ini membuka peluang penting bagi pengembangan layanan TB yang lebih efektif di Indonesia. Bukan untuk mempersulit layanan, tetapi untuk memastikan bahwa setiap tablet yang diminum benar-benar menyelamatkan nyawa. 



Bagi pasien TB RO sangat dianjurkan agar:

✔ minum obat sesuai jadwal,

✔ mengikuti anjuran tenaga kesehatan,

✔ menjaga asupan gizi,

✔ dan rutin kontrol.



Tuberkulosis bukan penyakit yang memalukan atau tak berujung, melainkan dapat disembuhkan bila diobati dengan benar dan teratur. Mari, dukung upaya program TB dalam memutus rantai penularan TB di komunitas.



Sumber:

Mariana N. The Peak Plasma Concentration (Cmax)/Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of bedaquiline and levofloxacin with special attention to the sputum conversion in the treatment of multidrug-resistant tuberculosis in  Indonesia. Plos one, 2026


Tidak ada komentar: