Penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) tetap momok yang menyeramkan bagi setiap keluarga di Indonesia. Hasil survei BRIN tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi penyalahgunaan narkoba mencapai 1,73 persen dari total penduduk usia 15-64 tahun, atau sekitar 3,3 juta jiwa, dan 22% di antaranya adalah kalangan pelajar dan mahasiswa.
NAPZA adalah zat yang dapat memengaruhi kerja otak dan sistem saraf. Zat ini bisa mengubah suasana hati, pikiran, dan perilaku seseorang. Awalnya mungkin digunakan untuk coba-coba atau kesenangan, tetapi lama-kelamaan bisa menyebabkan ketergantungan (adiksi). Sekitar 10–30% membutuhkan terapi atau rehabilitasi. Pengguna juga berisiko terkena penyakit serius seperti HIV dan hepatitis.
Adiksi sendiri adalah kondisi ketika seseorang tidak mampu mengontrol keinginan untuk menggunakan suatu zat atau melakukan suatu perilaku, meskipun sudah tahu dampak buruknya.
NAPZA memberikan efek: stimulan (perangsang), contoh: amfetamin, sabu; depresan (penekan), contoh: heroin, morfin, alkohol; dan halusinogen, contoh: ganja, LSD. Semua itu masuk ke dalam tubuh melalui cara diminum (oral), dihirup atau dihisap (inhalasi) , atau disuntik (intravena) dengan efek cepat dan berbahaya. Penggunaan dengan suntikan memiliki risiko tinggi penularan penyakit seperti HIV dan hepatitis.
Penggunaan NAPZA memengaruhi otak, terutama zat kimia yang disebut neurotransmitter. Dampaknya, si pengguna sangat sulit menghentikan pemakaian NAPZA tanpa bantuan, akibat adanya efek toleransi (dibutuhkan dosis lebih tinggi untuk efek yang sama); ketergantungan (dependence), sakaw (withdrawal), yaitu gejala saat berhenti, seperti gelisah, nyeri, dan keinginan kuat untuk memakai lagi; dan relapas (kembali menggunakan setelah berhenti).
Pengguna NAPZA memberikan ciri tertentu, yang harus kita waspadai. Kita bisa mengenali seseorang yang mungkin menggunakan NAPZA dari perubahan fisiknya (penurunan berat badan, mata merah atau sayu, bekas suntikan di tubuh); perilaku (mudah marah atau berubah suasana hati, menarik diri dari keluarga atau teman, prestasi menurun); serta kebiasaannya dalam pola tidur yang berubah, sering butuh uang tanpa alasan jelas, menghindari kontak sosial.
Dampak NAPZA tidak hanya pada tubuh, tetapi juga pada kehidupan secara keseluruhan, yaitu kesehatan (kerusakan otak, jantung, hati); psikologis (depresi, halusinasi, gangguan jiwa); sosial (konflik keluarga, kehilangan pekerjaan); hukum (berisiko terlibat dalam masalah hukum).
Apa saja yang dapat kita lakukan kepada orang yang kita curigai sebagai pengguna NAPZA? Jangan segan-segan memberikan edukasi kepada diri dan keluarga tentang bahaya NAPZA, waspada terhadap perubahan perilaku orang terdekat, segera cari bantuan profesional jika ada tanda ketergantungan (dokter, psikiater), dan jangan menunda penanganan, karena semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pulih.
NAPZA bukan hanya masalah individu, tetapi masalah bersama. Tidak melakukan apa-apa hari ini bisa berarti tidak ada harapan kesembuhan di masa depan. Kita bisa mencegah, mengenali lebih dini, dan membantu mereka yang membutuhkan dengan pengetahuan yang cukup.
Sumber
Fransiska D, Sosialisasi Adiksi Napza di RSMC, 2026
BRIN, 2023


Tidak ada komentar:
Posting Komentar